Category

Liputan

Home / Liputan
Liputan

Gagasan Caleg Baru Dinilai Lebih Jelas daripada Petahana

Jelang pencoblosan Pemilu 2019, atribut kampanye caleg makin sesak memadati sudut-sudut jalan. Namun, sangat minim caleg yang menjelaskan gagasan atau visinya jika terpilih jadi wakil rakyat.

Penelitian kualitatif dari lembaga Indomedia Poll, menjelaskan beberapa temuan mengenai perilaku para caleg menghadapi pencoblosan. Dengan mengambil sampel 3 partai nasionalis yakni PDIP, PSI, dan Nasdem di 80 dapil, Indomedia Poll menemukan para caleg baru terlihat lebih agresif dalam memberikan terobosan dibandingkan caleg petahana atau caleg artis.

“Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, banyak caleg petahana dan yang populer seperti artis kurang terdengar dalam menawarkan platform-platform kebangsaan. Sedangkan caleg baru tampil agresif dan berani dengan tawaran konsep yang sejalan dengan visi nasionalis,” ujar Direktur Eksekutif Indomedia David Krisna Alka di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (24/3).

David mencontohkan misal caleg petahana PDIP yang kini duduk sebagai Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah, tidak ada menawarkan program apa pun terkait masalah kebangsaan. Sementara misal caleg baru dari partai baru, PSI, Surya Tjandra, punya visi memperjuangkan gagasan hukum buruh dan organisasi disabilitas.

“Contoh lain caleg artis petahana Okky Asokawati vs Tsamara Amany,” lanjutnya. Caleg-caleg PSI memang dikenal getol mengkampanyekan lawan korupsi dan menolak perda syariah.

“Caleg-caleg progresif yang berorientasi nasional dan kebangsaan perlu didengar dan diketahui oleh publik terutama tawaran program, komitmen, dan konsistensi dalam perjuangan isu-isu kebangsaan,” kata David.

Menurutnya, para caleg petahana cenderung hanya mensosialisasikan jargon, politik artifisial, pencitraan, dan simbol, tanpa konsep dan gagasan kebangsaan yang diterima publik.

“Mengedukasi publik sudah jadi tanggung jawab setiap caleg, tapi hanya terdapat beberapa caleg yang menaruh perhatian pada pentingnya mengedukasi publik lewat visi misi dan tawaran program yang memperjuangkan visi nasionalis,” pungkasnya.

Liputan

Politik Gagasan Semakin Jauh

JAKARTA– Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyebut ada empat tantangan yang kemungkinan akan dihadapi menjelang proses pencoblosan 17 April mendatang.

Pertama munculnya pragmatisme untuk menang. Jelas hal ini dapat merusak politik gagasan karena masyarakat lebih membutuhkan te ro bosan dari caleg dibanding politik citra. “Kampanye pragmatis mengedepankan citra, simbol.

Akhirnya, politik gagasan semakin jauh,” ujar Direktur Perludem Titi Anggraini da lam diskusi bertajuk Ko nfigu rasi Caleg Na – sio nalis 80 Dapil di kawasan Ci – kini, Jakarta Pu sat, kemarin. Titi menyebut, menjelang pencoblosan akan semakin ma – rak penyebaran berita hoaks dan fitnah.

Dia bahkan men du – ga penyebaran hoaks akan lebih masif pada masa kam panye terbuka. “Kami men duga pe – nye baran ini punya potensi me – ningkat di masa kampanye ra – pat umum dari masa tenang. Ini kesempatan terakhir untuk mem bangun afeksi dukungan pemilih,” tutur Titi.

Dia mengungkapkan penyebaran berita hoaks tentang pe – nyelenggaraan pemilu menyasar peserta hingga penyelenggara. Selain penyebaran berita hoaks, hal yang perlu di waspadai adalah politik uang. Tantangan terakhir, kata Titi, adalah po ten – si munculnya ke ke rasan dalam penyeleng gara an pemilu.

Hal tersebut harus sangat diantisipasi oleh seluruh elemen, termasuk aparat pe negak hukum. “Kekerasan pemilu dibagi tiga, fisik atau luka, serangan milik negara atau pribadi, ancaman untuk melakukan kekerasan dan penyerangan terhadap fasili tas properti,” ucapnya.

Lebih jauh Titi menilai, pada Pemilu 2019 ini pilpres le bih men dominasi diban ding kan legislatif. Titi menje las kan, atur an yang dibuat KPU da lam penyelenggaraan pemi lu lebih condong mempr ior itaskan pe – lak sanaan pemilihan calon orang nomor satu di Indonesia.

Salah satu contohnya pe – nen tuan jadwal pelaksanaan kampanye pileg yang meng ikuti jadwal kampanye pilpres. “Ar tinya, desain pemilu serentak membuat penyelenggara pe milu didominasi dan berada di bawah bayang-bayang pemilu presiden,” tandasnya.

Dia mengakui KPU terlalu terbawaarusdenganlebihmem – prioritaskan pilpres. Pa dahal, menurutnya, pemilih ha rus diberikan sosialisasi pula terkait pelaksanaan pileg serta caleg yang berkontestasi. “Padahal, tidak semua partai meng usung capres-cawapres, contohnya saja Partai Garuda,” tambahnya.

Lembaga riset Indomedia Poll menyatakan banyak caleg dari petahana dan kalangan artis kurang memberikan pen – di dikan politik ke masyarakat pada pemilu kali ini. Hal itu diketahui dari survei yang di la – kukan terhadap beberapa caleg dari parpol berbasis ideologi nasionalis.

Riset tersebut di lakukan di 80 daerah pemilihan (dapil) para caleg. “Banyak ca leg petahana dan yang populer seperti artis kurang terdengar menawarkan platform ke bangsaan,” kata Direktur Me dia dan Riset Indomedia Poll Hamzah Fansuri di acara yang sama.

Menurut dia, keadaan ber – balik justru ditunjukkan oleh caleg yang baru muncul. Caleg baru itu justru lebih berani tam – pil agresif dengan mena war kan konsep yang sejalan de ngan visi nasionalis. “Caleg baru justru lebih agresif dan berani dalam menawarkan konsep-konsep nasionalis,” tutur Hamzah.

Padahal, lanjut dia, pendidikan politik merupakan hal yang ha rus dilakukan para caleg kepada masyarakat. Tu juan nya agar proses demokrasi dapat berjalan dengan sehat. “Hanya beberapa caleg yang me naruh perhatian pada pentingnya mengedukasi pu blik lewat visi-misi dan tawaran pro gram yang mendapat apresiasi dari pu blik,” ucap Hamzah.

Analis politik sekaligus Di – rektur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menyatakan, kampanye pilpres hanya ber – pusat pada diksi yang sen sa sio – nal untuk didengar ma sya ra – kat. Diksi dan frasa tersebut pada akhirnya hanya membuat bising dan memekakkan ruang opini publik.

“Narasi kam pa – nye Pilpres 2019 masih jauh dari substansi, sangat dangkal gagasan, berkutat pada perang diksi yang minim isi,” katanya. Narasi kampanye yang dang kal justru mengalihkan per bincangan publik untuk tidak terlalu dalam masuk m enyentuh persoalan yang lebih substantif. Narasi kampanye negatif ini, menurut Pangi, dilontarkan karena ada pihakpihak yang merasa khawatir bisa berpotensi merugikan kepentingan politiknya.

sumber

Liputan

Pilpres Dinilai Lebih Mendominasi Dibanding Pileg di Pemilu 2019

JAKARTA – Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menilai Pemilihan Presiden (Pilpres) lebih mendominasi dibandingkan Pemilihan Legislatif (Legislatif) dalam pelaksanaan Pemilu 2019.

“Jadi harus diakui bahwa desain pemilu serentak yang kami jalani saat ini, membuat penyelenggara pemilu didominasi dan berada di bawah bayang-bayang pemilu presiden,” kata Direktur Perludem Titi Anggraeni dalam diskusi bertajuk Konfigurasi Caleg Nasionalis 80 Dapil dikawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2019).

Titi menjelaskan, aturan yang dibuat oleh KPU dalam penyelenggaraan Pemilu 2019, lebih condong memprioritaskan pelaksanaan pemilihan calon orang nomor satu di Indonesia.

Menurutnya, salah satu contohnya adalah penentuan jadwal pelaksanaan kampanye Pileg yang mengikuti jadwal kampanye Pilpres.

“Ketika menentukan jadwal rapat umum saja sebagai contoh, kampanye pemilu legislatif mengikuti jadwal kampanye pemilu presiden jadi pilihan KPU. Menentukan jadwal kampanye saja akhirnya mengukuhkan semakin pemilu itu terkonsentrasi pada Pemilu presiden,” kata Titi.

Menurut Titi, KPU terlalu terbawa arus dengan lebih memprioritaskan Pilpres. Padahal, menurutnya pemilih harus diberikan sosialisasi pula terkait pelaksanaan Pileg serta caleg yang berkontestasi.

“Padahal tidak semua partai itu mengusung capres cawapres, contohnya saja partai Garuda,” kata Titi.

sumber

Liputan

Banyak Caleg Petahana dan Artis Dinilai Kurang Berikan Pendidikan Politik

JAKARTA – Lembaga riset Indomedia Poll menyatakan bahwa banyak Calon Legislatif (Caleg) dari petahana dan kalangan artis kurang memberikan pendidikan politik ke masyarakat dalam Pemilu 2019 mendatang.

Hal tersebut diketahui dari survei yang dilakukan terhadap beberapa caleg dari Partai Politik (Parpol) berbasis idiologi nasionalis. Riset tersebut dilakukan di 80 Daerah Pemilihan (Dapil) para caleg.

“Banyak caleg petahana dan yang populer seperti artis kurang terdengar menawarkan platform kebangsaan,” kata Direktur Media dan Riset Indomedia Poll Hamzah Fansuri dalam diskusi bertajuk Konfigurasi Caleg Nasionalis 80 Dapil di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2019).

Menurutnya, keadaan berbalik justru ditunjukan oleh Caleg yang baru muncul di Pemilu 2019 ini. Pasalnya, kata dia, Caleg baru itu justru lebih berani tampil agresif dengan menawarkan konsep yang sejalan dengan visi nasionalis.

“Caleg baru justru lebih agresif dan berani dalam menawarkan konsep-konsep nasionalis,” tutur Hamzah.

Padahal, kata dia, pendidikan politik adalah merupakan hal yang harus dilakukan para Caleg kepada masyarakat. Tujuannya, adalah agar proses demokrasi dapat berjalan dengan sehat.

“Hanya beberapa caleg yang menaruh perhatian pada pentingnya mengedukasi publik lewat visi misi dan tawaran program yang mendapat apresiasi dari publik,” ujar Hamzah.

Metode survei ini sendiri dilakukan dengan studi kualitatif. Hal ini menepatkan pada korelaai data statistik dengan riwayat masing-masing Caleg.

sumber

Liputan

Konfigurasi Caleg Nasionalis 80 Dapil INDOMEDIA POLL:

Di wilayah Sumatera ada 17 dapil yang terdapat beberapa caleg bervisi nasionalis dengan reputasi baik. Di antaranya, Kamarudin Kamar (dapil Aceh 1 dari PSI). Kemudian, Yasonna H. Laoly (dapil Sumatera Utara 1 dari PDIP), Trimedya Panjaitan (dapil Sumut 2 dari PDIP), Irma Suryani (dapil Sumatera Selatan 2 dari NasDem), Endang Tritana (dapil Sumatera Barat 2 dari PSI), Taufik Basari (dapil Lampung 1 dari NasDem).

Kemudian, wilayah Jawa (Banten dan DKI Jakarta). Caleg yang bervisi nasionalis di dapil Ibu Kota dan Banten ini adalah Ahmad Sahroni (dapil DKI Jakarta 3), Rian Ernest Tanudjaja (dapil DKI Jakarta 1 dari PSI), Azmi Abubakar (dapil Banten 3 dari PSI), Grace Natalie Louisa (dapil DKI Jakarta 3 dari PSI).

Caleg yang berivisi nasionalis di Wilayah Jawa Barat yakni, Rieke Diah Pitaloka (dapil Jabar 7 dari PDIP), Fajar Riza Ul Haq (dapil Jabar 5 dari PSI), Adian Yunus Yusak Napitupulu (dapil Jabar 5 dari PDIP), Dedek Prayudi (dapil Jabar 9 dari PSI), Ribja Tjiptaning Proletriyati (dapil Jabar 4), Teuku Taufiqulhadi (dapil Jabar 5 dari NasDem), Moh. Arief S. Suditomo (dapil Jabar 1 dari NasDem) dan Satia Chandra Wiguna (dapil Jabar 11 dari PSI).

Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ada Dini Shanti Purwono (dapil Jateng 1 dari PSI), Puan Maharani (dapil Jateng 5 dari PDIP), Harijanto Arbi (dapil Jateng 3 dari PSI), Hendrawan Supratikno (dapil Jateng 10 PDIP), Sugeng Suparwoto (dapil Jateng 8 dari NasDem), Redianto Heru Nurcahyo (dapil DIY dari PSI), Amelia Anggraini (dapil Jateng 7 dari NasDem), dan Mohammad Idham Samawi (dapil DIY dari PDIP).

Wilayah Jawa Timur yakni Ahmad Basarah (dapil Jatim 5 dari PDIP), A Effendy Choirie (Dapil Jatim 10 dari NasDem), Andy Budiman (dapil Jatim 1 dari PSI), Mohammad Guntur Romli (dapil Jatim 3 dari PSI), Danik Eka Rahmaningtyas (dapil Jatim 4 dari PSI), Surya Tjandra (dapil Jatim 5 dari PSI), dan Imam Addaruqutni (dapil Jatim 6 dari PSI).

Wilayah Bali dan Nusa Tenggara yakni Andreas Hugo Pareira (dapil NTT 1 dari PDIP), Kurtubi (dapil NTB2 dari NasDem), I Nengah Yasa Adi Susanto (dapil Bali dari PSI).

Caleg yang bervisi nasionalis di Wilayah Kalimantan ada Asdy Narang (dapil Kalteng dari PDIP), Guntur Prawira (dapil Kalsel 1 dari NasDem), Itha Saleem (dapil Kalbar 1 dari PSI. Wilayah Sulawesi ada Benny Jozua Mamoto (dapil Sulut dari NasDem), Andi Saiful Haq (dapil Sulsel 1 dari PSI), Akbar Faizal (dapil Sulses 2), Rachmad Gobel (dapil Gorontalo dari NasDem), dan Yusuf Lakaseng (dapil Sulteng dari PSI)

Wilayah Maluku dan Papua yakni Mercy Chriesty Barends (dapil Maluku dari PDIP), Andy Eric Manuhutu (dapil Maluku dari PSI) dan Sulaeman L. Hamzah (dapil Papua dari NasDem).

Follow us

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound